Seluruh Perangkat Daerah Siap Dukung Percepatan Program Wali Kota-Wawali

Struktur Organisasi

Sebagai bagian dari pemerintahan kota, seluruh perangkat daerah siap untuk memberikan dukungan penuh pada program 100 hari kerja yang dijalankan oleh Wali Kota Yogya, Hasto Wardoyo dan Wakil Wali Kota Yoga, Wawan Harmawan. Ini merupakan bukti keseriusan kami dalam memajukan kota ini ke arah yang lebih baik.

Pemerintah telah menandatangani komitmen untuk meningkatkan kinerja dan layanan publik dengan program quick wins yang diluncurkan di Ruang Bima Kompleks Kantor Walikota Yogya.

Penandatangan quick wins adalah bukti komitmen yang dilakukan oleh setiap perangkat daerah. Dalam 100 hari kerja, kepala perangkat daerah diminta untuk membuat program dan proyek perubahan yang beragam. Dengan penandatanganan ini, mereka menunjukkan kesiapan untuk melaksanakan quick wins. Seperti yang dikatakan oleh Hasto Wardoyo, “Ini adalah langkah awal yang baik.”

Meskipun program ini akan berlangsung selama 100 hari kerja, Wali Kota Yogya bersama Wakilnya, Wawan Harmawan, bertekad untuk terus melanjutkannya selama masa jabatannya.

“Untuk 100 hari pertama masa jabatan saya dan Wakil Wali Kota Yogya, Wawan Harmawan, kami akan terus memulai dan menjalani tantangan ini,” jelasnya.

Dalam pertemuan tersebut, Hasto mengungkapkan berbagai program cepat di setiap perangkat daerah. Sebagai contoh, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta akan melaksanakan program pengosongan depo yang tersebar di seluruh wilayah kota. Program ini merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup di Kota Yogyakarta secara efektif dan cepat.

Menurutnya, dalam 100 hari ini, 46 lokasi di Kota Yogyakarta akan bebas dari tumpukan sampah. Tindakan ini bertujuan untuk membuat kota menjadi lebih bersih dan nyaman bagi warga.

Untuk mengatasi masalah sampah di sungai, DLH Kota Yogya juga akan memasang trash barrier yang berfungsi untuk menangkap sampah yang terapung. Pemasangan ini dijadwalkan akan dilakukan pada awal bulan April di beberapa sungai.

Kota Yogya juga akan memiliki sebuah taman edukasi sampah yang terletak di RTHP Jopraban Wirobrajan. Melalui taman ini, masyarakat akan diberikan edukasi tentang berbagai cara dalam pengelolaan sampah. Hal ini diungkapkan oleh DLH Kota Yogya yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan seputar pengolahan sampah di kalangan masyarakat.

Selain DLH, Hasto juga mengungkapkan program quick wins dari Perumada PDAM Tirtamarta. BUMD milik Pemkot ini menawarkan potongan harga melalui program quick wins untuk pemasangan sambungan rumah baru. Ini adalah cara yang efektif untuk meningkatkan layanan dan memperoleh lebih banyak pelanggan.

Menurunkan harga dari Rp 1.600.000 menjadi Rp 500.000 serta menghapus hutang pelanggan dengan cicilan kurang dari dua tahun merupakan beberapa kebijakan baru yang kami terapkan. Semua ini dilakukan untuk memberikan layanan yang lebih baik dan membuat pelanggan merasa puas dengan produk kami.

Salah satu program unggulan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogya adalah “Satu Kampung, Satu Bidan” yang bertujuan untuk memastikan setiap kampung memiliki bidan atau tenaga kesehatan. Ini merupakan bentuk upaya dalam meningkatkan pelayanan kesehatan masyarakat di tingkat kelurahan dan desa.

“Dinas Kesehatan juga akan menyelenggarakan pemeriksaan kesehatan gratis secara rutin untuk para lansia, yang diadakan setiap tiga bulan di kantor kecamatan,” ungkapnya.

Namun, bagaimana dengan masyarakat yang tidak memiliki asuransi kesehatan seperti BPJS? Jangan khawatir, karena Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta masih menyediakan layanan kesehatan yang sama.

Meskipun tidak memiliki BPJS, masyarakat tetap akan dilayani dengan menunjukkan identitas sebagai penduduk Kota Yogyakarta. Namun, layanan yang diberikan akan sesuai dengan kelas tiga.

Untuk mengoptimalkan program quick wins di wilayah tersebut, Hasto mencontohkan pengalaman sukses dari Kemantren Mantrijeron dan Pakualaman.

Di Kemantren Mantrijeron, ada program yang bertujuan untuk mengurangi sampah di sumbernya. Hal ini akan mengurangi volume sampah yang harus dibawa ke depo.

Menurut penjelasannya, di Kemantren Mantrijeron, telah dipasang biopori berukuran 80 cm dan kedalaman 2,5 meter di setiap RW.

Tindakan yang mirip juga dilakukan oleh Kemantren Pakualaman. Di sana, mereka telah berhasil mengurangi jumlah limbah dengan bekerja sama dengan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di Kelurahan Panggungharjo. Ini adalah bukti nyata bahwa kegiatan kosong depo dapat memberikan hasil yang baik jika dilakukan secara kolaboratif.

Melalui inisiatif ini, Kemantren Pakualaman berhasil mengurangi volume sampah rumah tangga sebanyak 54,4 persen. Selain itu, limbah organik juga dimanfaatkan untuk memproduksi makanan maggot secara berkelanjutan.

Hasto berharap bahwa berbagai program “quick wins” yang diimplementasikan oleh setiap perangkat daerah akan membawa dampak positif yang besar bagi Kota Yogyakarta.

Saya berharap bahwa program-program tersebut akan langsung bermanfaat bagi masyarakat dan akan meningkatkan kualitas hidup mereka.